Senin, 19 Desember 2011


TEORI PERENCANAAN KOTA OLEH ( IRAWAN DUWILA )

A.  PENDEKATAN EKOLOGIKAL 
Pendekatan ini mula-mula dikembangkan antara 1916-1940 oleh masyarakat ilmiah di Chicago School of Urban Sociology. Pada beberapa waktu kemudian orang beranggapan bahwa Pendekatan Ekologikal identik dengan Chicago School.
            Pendekatan Ekologikal adalah kota yang dipandang sebagai suatu obyek studi dimana di dalamnya terdapat masyarakat manusia yang sangat komplek,telaha mengalami proses interrelasi antarmanusia dan antara manusia dengan lingkungannya. Produk hubungan tersebut ternyata mengakibatkan terciptanya pola keturunan daripada penggunaan lahan.

1.  Teori Konsentris
            Para pemerhati ekologi pada kota Chicago melihat adanya keteraturan pola penggunaan lahan yang tercipta sebagai produk dan sekaligus proses interrelasi antara elemen-elemen wilayah kotanya. Orang  yang pertama kali menuangkan pengamatannya dalam suatu tesis adalah E.W. Burges. Menurut E.W. Burgess (1925).kota Chicago ternyata telah berkembang sedemikian rupa dan menunjukan pola penggunaan lahan yang konsentris di mana masing-masing jenis penggunaan lahan ini dianalogikan sebagai konsep “natural areas”(pada dunia binatang), tumbuhan merupakan wilayah alami yang didominasi oleh spesies tertentu yang tercipta sebagai akibat persaingan dalam mengembangkan kehidupannya. Burges membagi kota menjadi 5 bagian : Daerah pusat kegiatan (Central Business District), Zona Peralihan (Transition Zone),Zona perumahan para pekerja (Zone of working men’s homes), Zona permukiman yang lebih baik (zone of better residences),dan  Zona para penglaju (Zone of commuters)

v  KELEBIHAN TEORI KONSENTRIS
·         Dapat mengkondisikan lingkungan sedemikian rupa sehingga kelangsungan hidup Spesies sejenis dapat terjaga
·         Menyeragamkan Sifat – sifat “Natural Area karena Zona yang terbentuk sebagai Produk dan proses manifestasi Ekologis
·         Dapat menceritrakan interelasi dan interaksi yang kompetitif antara manusia, Tumbuhan dan Binatang serta lingkungan
v  KELEMAHAN TEORI KONSENTRIS
·         Adanya pertentangan antara “ Gradints “ dengan “ Zonal Boundaries “
·         Homoginitas internal yang tidak sesuai dengan kenyataan
·         Teorinya kurang Universal dan Skema yang anakronistik / Out of date
2.  Teori Sektor
      Munculnya ide untuk mempertimbangkan variabel sector ini pertama kali dikemukakan oleh Hoyt (1939)  Bahwa Persebaran pola sewa terlihat sejalan dengan sector-sektor tertentu dengan kekhasan tertentu dalam tesisnya yang berjudul “The Structure and Growth of residential neighbourhoods in American Cities”. Tulisannya tersebut adalah sebagai hasil penelitiannya mengenai pola-pola sewa rumah tinggal di 25 kota-kota di Amerika Serikat.
      Dengan menuangkan hasil penelitiannya pada pola konsentris sebagaimana dikemukakan Burgess, ternyata pola sewa tempat tinggal pada kota-kota di Amerika cenderung terbentuk sebagai “pattern of sectors”(pola Sektor-sektor)dan bukannya pola konsentris. Apabila asumsi Burgess betul dengan sendirinya pola sewa ini juga akan membentuk pola zona konsentris dan gradasi besarnya sewa akan mengikuti sinyalemen Burgess bahwa makin kearah luar bahwa makin baik atau dapat pula sejalan dengan “distance decay principle”karena pertimbangan aksesbilitas. Namun demikian,kenyataan menunjukan lain. Hal inilah yang menyebabkan terkenalnya teori Homer Hoyt sebagai teori sector. Menurut Hoyt, kunci terhadap perletakan Sektor ini terlihat pada lokasi dari pada Daerah - daerah yang berkualitas tinggi untuk tempat tinggal.

v  KELEBIHAN TEORI SEKTOR
·         Bahwasannya elemen arah akan lebih menentukan penggunaan lahannya dari pada elemen jarak
·         Jalur transportasi menghubungkan pusat Kota ke bagian – bagian yang lebih jauh
·         Berkembang pada arah yang sama pada waktu yang lama
·         Persebaran rumah berdasar kualitas fisik mengikuti pola sektor
·         Merupakan karya yang memperbaiki dan melengkapi teori Burgess

v  KELEMAHAN TEORI SEKTOR
·         Distribusi umur bangunan cendrung menunjukan pola Konsentris
·         Sangat bergantung pada jalur transportasi yang menjari.
·         Hanya dapat di gunakan pada Kota atau Wilayah tertentu
·         Lebih mengarah pada pembangunan perumahan bukan unsur Wilayahnya
·         Kajiannya hanya sebatas pembagunan dan penetapan Bangunan – bangunan yang tepat

B.  PENDEKATAN SISTEM KEGIATAN
         Pendekatan ini secara komperhensif dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memahami pola-pola perilaku dari perorangan, lembaga-lembaga dan firma-firma yang mengakibatkan terciptanya pola-pola keruangan didalam kota. (Chapin,1965), dalam hal ini yang menjadi penekanan analisis adalah unsu - unsur utama perilaku manusia serta dinamika perilaku manusia yang kemudian didalam proses imbal dayanya telah mengakibatkan terciptanya pola-pola keruangan tertentu di dalam sesuatu kota.
         Baik disadari atau tidak disadari, secara eksplisit atau implicit,baik individu maupun kelompok individu,didalam kiprahnya di daerah perkotaan akan selalu menyebabkan terjadinya pola penggunaan lahan tertentu.pola kegiatan manusia dapat diamati dari sistem sistem kagiatan perorangan maupun badan-badan swasta, pemerintah. Raonels (dalam Carter1975) menggolongkan sistem-sistem kegiatan tersebut menjadi 3 yaitu: yang pertama Sistem kegiatan rutin yaitu aspek kegiatan utama individu yang dilaksanakan,seperti pergi belanja,ke kantor dan lain sebagainya. Yang ke Dua Sistem kegiatan terlembaga yaitu kegiatan kelembagaan baik itu lembaga swasta  maupun lembaga pemerintah yang difokuskan pada “particular points” dan yang ketiga Sistem kegiatan yang menyangkut organisasi daripada proses-prosesnya sendiri.

1.  Charles Colby (1933)
         Pertama kali mencetuskan idenya tentang kekuatan-kekuatan dinamis yang mempengaruhi pola penggunaan lahan kota. oleh karena didalam kota terdapat kekuatan-kekuatan dinamis mempengaruhi pola penggunaan lahan kota maka pola penggunaan lahan kota sendiri tidak statis sifatnya
         Penambahan dan pengurangan bangunan-bangunan, pengubahan bangunan-bangunan, penambahan dan pengurangan fungsi-fungsi, perubahan jumlah penduduk, perubahan struktur penduduk, perubahan kompesisi penduduk, perubahan tuntutan masyarakat,perubahan nilai-nilai kehidupan dan aspek-aspek kehidupan (politik,social,ekonomi,budaya, teknologi, psikologi, religious dan fisikal)dari waktu ke waktu telah menjadikan kota menjadi bersifat dinamis dalam artian selalu berubah dari waktu ke waktu dan demikian pula pola penggunaan lahannya.
v  KELEBIHAN TEORI CHARLES COLBY
·        Dapat memahamkan bahwa perubahan pada suatu kota bukan hanya dari unsur Ekonomi saja melainkan ada pergerakan yang tak dapat di hindari karena muncul secara tak terduga
v  KELEMAHAN TEORI CHARLES COLBY
·         Masih butuh penjelasan lebih rinci mengenai pergeseran yang terjadi tersebut .
2.   Jhon Turner (1968)
         Sarjana ini mengemukakan teori mobilitas tempat tinggal. Dalam menjelaskan teorinya,sarjana ini mengemukakan beberapa dimensi yang bergerak parallel dengan mobilitas tempat tinggal ini. Ada 4 macam dimensi yang perlu di perhatikan dalam mencoba memahami dinamika perubahan tempat tinggal pada sesuatu kota yaitu : (1) dimensi lokasi, (2) dimensi perumahan, (3) dimensi siklus kehidupan dan (4) dimensi penghasilan. Dinamika teorinya didasari oleh “azas equilibrium” (keseimbangan) dimana mengandung pengertian bahwa mereka yang lebih kuat ekonominya memperoleh sesuatu yang lebih baik dalam hal “residential location”.
         Dimensi lokasi mengacu pada tempat – tempat tertentu pada suatu Kota yang telah seorang atau sekelompok orang dianggap paling cocok untuk tempat tinggal dalam kondiisi dirinya. Dimensi perumahan di kaitkan dengan aspirasi perorangan atau sekelompok orang terhhadap macam tipe perumahn yanng ada. Kemudian dimennsi siklus kehidupan membahas tahap – tahp seseorang mulai menapak ddalam kehidupan manndirinya, dalam artian bahwa semua kebutuhan hidupnya 100% ditopang oleh penghasilanya sendiri kemudian dimensi peng hasilan menekankan pembahasannya pada besar kecilnya penghasilan yang di peroleh persatuan waktu.

v  KELEBIHAN TEORI JHON THURNER
·        Membagi perubahan kota berdasarkan kemampuan individu pendapatan seseorang
·        Menjelaskan mengenai keunggulan lokasi perumahan yang sesuai dengan pendapatan seseorang
·        Mengarahkan perubahan kota secara kegiatan – kegiatan dan kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu yang terbaik

v  KELEMAHAN TEORI JHON THURNER
·         Masih bersifat khusus
·         Belum mencakup perekonomian yang luas
·         Mengarah pada kajian yang bermateri tinggi
·         Dapat di golongkan sebagai perubahan social dan lingkungan bukan perubahan Kota secara menyeluruh
·         Sangat bergantung pada ekonomi tingkat tinggi dengan modal yang besar untuk tiap – tiap individual masing - masing
C.  PENDEKATAN EKONOMI
            Pendekatan Ekonomi untuk studi struktur keruangan kota/struktur penggunaan lahan kota sebenarnya baru mulai mendapat perhatian besar pada tahun 60-an. Namun demikian ide-ide yang mengarah ke pendekatan ini sudah mulai muncul jauh sebelumnya. Bebrapa diantaranya dapat dikemukakan di sini yaitu Cooley (1894) dan Weber (1895) yang mengemukakan bahwa jalur transportasi dan titik simpul (pertemuan beberapa jalur transportasi)dalam suatu sistem transportasi, mempunyai peran yang cukup besar terhadap perkembangan kota.  

1.   Teori Lokasi Optimum dan Algomerasi Industri
            Alfred Weber adalah penulis Buku Ueber den Standartder Indutrien (1909), yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh C.J. Friedrich. Dalam teorinya  Weber ia menekankan pentingnya biaya Transpor sebagai faktor pertimbangan lokasi. Teori Weber sebenarnya menentukan dua kekuatan lokasional Primer, yaitu orientasi transport dan orientasi tenaga kerja. Pemikiran Weber telah memberikan sumbangsi ilmiah dalam banyak aspek. Weber berusaha menetapkan lokasi yang optimal dalam arti pemilihan lokasi yang mempunyai biaya minimal. Selain itu dia telah menjelaskan terjadinya evousi Ekonomi tataruang dalam arti munculnya strata yang suskses seperti pembangunan industry ( pusat – pusat kegiatan Ekkonomi ), terjadinya urbanisasi dan sstruktur masyarakat Kota.

v  KELEBIHAN TEORI LOKASI OPTIMUM DAN ALGOMERASI INDUSTRI
·         Sebagai perintis dalam analisis lokasi yaitu mengenai munculnya pusat – pusat kegiatan Ekonomi ( Industri).
·         lokasi yang optimal dalam arti pemilihan lokasi yang mempunyai biaya minimal.
·         Mengembangkan dasar – dasar analisis pasar.
·         Memberikan kontribusi yang esensial dalam penembangan Wilayah.
v  KELEMAHAN TEORI LOKASI OPTIMUM DAN ALGOMERASI INDUSTRI
·         Tidak dapat mendeteksi keuntunngan – keuntungan Algomerasi karena bukan suatu daftar yang lengkap dan menyeluruh.
·         Tidak mudah di operasionalisasikan karena mengarah pada Algomerasi.
·         Terdapat ke tidak  relevanan ketika kecendrungan Algomerasi dapat di padukan kedalam proses perkembangan Ekonomi yang akan bberakibat bahwa perubahan lokasional akan dicerminkan oleh semakin bertambahnnya Algomerasi.
2.   Teori Tempat Sentral ( Walter Christaller )
            Di kemukakan oleh Walter Christaller dalam bukunya yang berjudul Die Zentralen Orte in Sud Deuchland ( 1933 ). Yang kemudian di terjemahkan ke  dalam bahasa Inggris oleh E.W.Baskin dengan udull Central Places in Southern Germany ( 1966 ). dalam teori tersebut Walter Christaller mengintroduksikkan mengenai tempat Central, dimana Pusat kota dapat dikatakan pula dengan istilah central place (tempat sentral) yang didefinisikan dalam arti fungsi-fungsi sentral yang dilaksanakan untuk suatu daerah. Fungsi utama kota adalah bertindak sebagai suatu pusat pelayanan untuk daerah hinterland di sekitarnya (yang disebut sebagai daerah komplementer/daearah belakang), yang menyuplai kebutuhan barang dan jasa untuk kota. Menurut teori central place atau tempat sentral, kota tumbuh dan berkembang sebagai akibat dari permintaan barang dan jasa daerah sekitarnya. Atau dengan kata lain pertumbuhan kota merupakan suatu fungsi dari penduduk daerah hinterlandnya dan merupakan fungsi dari tingkat pendapatannya.

v  KELEBIHAN TEORI TEMPAT SENTRAL
·         Menjelaskan pola aktual arus pelayanan jasa.
·         Bersifat Normatif.
·         Dapat menentukan Pola optimal Distribusi Tempat – tempat Sentral.
·         Dapat member Kontribusi pada Pemahaman Interrelasi Spasial
·         Menjelaskan Kota sebagai system di dalam system perkotaan

v  KELEMAHAN TEORI TEMPAT SENTRAL
·         Pada kenyataannya kota besar tidak mengkususkan fungsinya pada produksi barang dan jasa yang akan dipasarkan ke darah pasar yang luas sebagaimana di klaim oleh teori central place.
·         Analisis central place ternyata lebih menekankan pada peranan sektor perdagangan dan kegiatan jasa dari pada kegiatan produktif lainnya seperti manufacturing dan transportasi.
·         Pertumbuhan kota meningkat terus dan setelah sampai pada tingkat tertentu mereka memerlukan sumber daya (tenaga kerja, modal, dll) yang didatangkan dari luar daerah. Dalam hal ini tidak dapat dijelaskan dalam pengertian permintaan barang dan jasa dari daerah hinterland seperti yang dikemukakan oleh teori central place.

3.   Teori Kutub Pertumbuhan ( Francois  Perroux )
            Merupakan perkembangan modern  dari titik – titik pertumbuhan yang berasal dari para ahli Ekonomi Wilayah yang di pelopori oleh Francois Perroux ( 1955 ). Perroux telah mengembangkan konsep kutub pertumbuhan, dalam artikelnya yang berjudul “ Note sur Nation de Pole croissance”. Menurut pendapatnya, pertumbuhan ataupun pembangunan tidak  di  dilakukkan diseluruh tata ruang, tetapi terbatas pada beberapa tempat atau lokasi tertentu. Tata ruang diidentifikasikannya sebagai arena atau medan  kekuatan yang didalamnya terdapat Kutub – kutub atau pusat – pusat. Setiap kutub mempunnyai kekuatan pancaran pengembangan keluar dan kekuatan tarikan ke dalam. Teori menjelaskan tentang pertumbuhan Ekkonomi dan khususnya mengenai Indutri –industri dan perusahaan – perusahaan yang saling ketergantungannya, bukan mengenai geografis dan pergeseran industry bbaik secara iintra maupun inter. Pada dasarnya teori kutub pertumbuhan mempunyai penngertian tata ruang ekkonomi secara Abstrak.

v  KELEBIHAN TEORI KUTUB  PERTUMBUHAN
·         Merupakan langkah awal dalam integrasi Ekonomi secara Spasial dan Regional
·         Kontribusi yang besar dalam pengembbangan wilayah
·         Dapat menentukan mata rantai – mata rantai antar industry.

v  KELEMAHAN TEORI KUTUB  PERTUMBUHAN
·         Kenyataannya menunjjukan bahwa besarnnya suatu industry secara tersendiri tidak cukup menjamin keberhasilan pertumbuhan Ekonomi
·         Tidak memberikan penjelasan yang memuaskan mengenai proses Algomerasi.: conntohnya industry – industry tertarik  mengadakann algomerasi bukan karena sifat – sifat oligopolistic industry pendorong, akan tetapi karena penghematan – penghematan eksternal yang dihasilkan oleh daerah  - daerah perkotaan besar.
·         Peranan industry pendorong selalu di tafsirkan terlalu berlebihan.
·         Merupakan konsep barat yang menekankan pada industry yang bermodal dengan skala besar.
·         Kebijakan dari teori ini akan memprioritaskan  pada strategi industry perkotaan dengan demikian maka akan terdapat tuntutan  untuk mendistribusikan investasi dari daerah kota ke daerah – daerah pedesaan sedangkan pembangunan pedesaan tergolong berjalan lambat.

4.   Teori Basis Ekspor.
            Telah sejak lamma dikenal dengan teori basis Ekonomi ( Ekonomi Base Theory ).  Yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah (Negara) bersumber pada permintaan dari wilayah ( Negara ) di luar.  Teori base ekspor membagi wilayah yang melakukan perdagangan menjadi dua, yaitu wilayah yang bersangkutan dan wiayah – wiayah sisanya, demikian juga struktur perekonomian di bagi menjadi dua yaitu sector dasar dan sector non dasar. Kegiatan dassar menghasilkan barang – barang yang di ekspor keluar wilayah, sedangkan non dasar memproduksi barang – barang dan jasa – jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah yang bersangkutan. asumsi dasarnya ialah kegiatan dasar merupakan Kunci pertumbuhan Wilayah.
            Menurut teori basis ekspor , suatu wilayah bertumbuh atau berkembang sebagai akibat dari spesialisasi dalam kegiatan ekspor, dengan ekspor dapat memperoleh pendapatan, hal ini dapat menigkatkan kekayaan dan kemampuan suatu wilayah untuk melaksakan pembangunan dan membayar harga – harga barang yang diimpornya dari wilayah luar. Analisis ini pada dasarnya menggunakan teori perdagangan Internasional yang diterapkan pada batas suaru wilayah.

v  KELEBIHAN TEORI BASIS EKSPOR
·         Kontribusi yang besar dalam pengembangan wilayah
·         Mengandalkan kegiatan ekspor sebagai dasar pertahanan dan pertumbuhan wilayah
·         Menjadi peranan penting dalam sector dasar atau sector basis pertumbuhan Wilayah

v  KELEMAHAN TEORI BASIS EKSPOR
·         Terdapat kesulitan dalam mengukur dan membedakan antara kegiatan–kegiatan dasar dengan kegiatan – kegiatan non dasar
·         Menjadi kelemahan mendasar jika di tinjau dari kerangka teoritik ketika membagi struktur perekonomian kedalam dua sector
·         Tidak realistic ketika membagi wilayah – wilayah kedalam dua bagian, karena menjadi dasar akan terjadi kesalahan dalanm proses analisis.
·         Karena sumber pertumbuhaan wilayah terletak pada perubahan yang berasal dari luar yaitu  permintaan terhadap Ekspornya , maka penawaran tenaga kerja akan dianggap elastic sempurna, sedangkan kenyataanya tidak demikian.
5.   Teori Von Thunen ( Sewa Tanah )
            Johan Heinrich von Thunen ( 1826 ) telah menngembangkan hubungan antara perbedaan lokasi pada tata ruang ( spatial location ) dan pola penggunaan lahan. Johan Heinrich von Thunen menguraikan teori sewa lahan diferensial dalam bukunya yang berjudul Der Isoleierte Staat, In Beziehung auf landwirtshcaft un Nationalokonomie. Inti pembahasan Von Thunen ialah mengenai lokasi dan spealisasi pertanian. Berdasarkan asumsi – asumsi yang di gunakkan, yaitu : yang pertama Wilayah model yang terisolasikan adalah bebas dari pengaruh pasar Kota – kota lain, yang kedua wilayah model membentuk tipe pemukiman perkampungan dimanna kebanyakan keluaraga petani hidup pada tempat – tempat yang terpusat dan bukan tersbar diseluruh Wiilayah, yang ke Tiga wilayah model memiliki iklim, Tenah, Topografi yang seragam atau univorm( produktifitas tanah secara fisik adalah sama ), ke Empat wilayah model memiliki fasilitas transportasi tradisional yang relative seragam , dan yang ke Lima ialah Faktor – faktor alamiah yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah konstan, mmaka dapat di analisis bahwa sewa lahan merupakan hasil persaingan antara berbagai jenis penggunaan lahan.
            Menurut Von Thunen,Produsen–produsen tersebar di daerah luas, sedangkan pembeli –pembeli terkonsentrasi pada titik sentral. Titik sentral pada umumnya merupakan kota , dan tidak terdapat perbedaan lokasi diantara para pembeli dalam kota.

v  KELEBIHAN TEORI VON THUNEN ( SEWA TANAH )
·         Menjadi acuan penting dalam pengembangan Wilayah terutama dalam menentukan berbagai kegiatan perekonomian
·         Dapat menentukan berbagai Kawasan ( Zoning )

v  KELEMAHAN TEORI VON THUNEN ( SEWA TANAH )
·         Masih sanngat sederhana dalam penjelasannya
·         Cendrung menunjukan pola Pertanian dengan demikian semakin berat jika pertumbuhan pedesaan berjalan lambat
·         Sangat bergantung pada jalur transportasi cepat
·         Menitik beratkan pada penjual yang berada pada kawasan – kawasan yang lebih jauh dari pusat model
·         Penurunan biaya transport akan tak pernah sikron dengan para penjual dari luar
·         Kajiannya hanya sebatas pembagunan pertanian dan pasar tradisional.

6.   Teori Simpul Jasa Distribusi ( Poernomosidi Hadjisarosa )
            Poernomosidi Hadjisarosa menjelaskan Teori Simpul Jasa Distribusi yang telah dikembbangkan dalam berbagai artikel dan Makala, misalnya Konsepsi Dasar Penembangan Wilayah di Indonesia ( Makala di sajikan dalam symposium di ITB,tanggal 21 Agustus 1980, dan dalam pertemuan antara ilmuan lembaga ilmu pengetahuan Indonesia di Jakarta, Tanggal 24 Juni 1981 ).  Poernomosidi menjelaskan konsepnya sebagai berikut : Berkembangnya Wilayah ditandai oleh terjadinya Pertumbuhan atau perkembangan sebagai akibat berlangsungnya berbagai kegiatan usaha , baik sector Pemerintah maupun sector Swasta, yang pada dasarnya bertujuan untuk menigkatkan pemenuhan kebutuhan. Berlangsungnya kegiatan usaha tersebut ditunjang dari segi modal.
            Dibandingkan dengan teori tempat sentral dan teori kutub pertumbuhan ternyata teori “ Simpul Jasa Distribusi “ lebih akomodatif. Poernomosidi membantah Teori tempat sentral yang beranggapan bahwa seluruh wilayah terbagi habis dan seluruh bagian Wilayah tidak ada yang terlewatkan oleh jasa pelayanan. Dalam hal ini Poernomosidi membedakan wilayah Adminnistratif dengan wilayah pengembangan. Secara administratif, seluruh wilayah terbagi habis tetapi tidak berarti seluruh Wilayah Administrasi otomatis tercakup dalam Wilayah pengembangan, dalam kenyataannya  bebrapa bagian Wilayah administrasi tidak terjangkau oleh pelayanan jasa distribusi disebabkan hambatan – hambatan geografis atau karena belum tersedianya Prasarana – prasarana perhubungan kea tau dari bagian – bagiian Wilayah tersebut.
Pada teori kutub pertumbuhan yang di ungkapkan oleh Perroux, Poernomosidi mencoba membandingkan dengan teorinya di mana pada teori kutub pertumbuhan tidak menjelaskan pertumbuhan secara Nasional. Sedangkan teori simpul yang bertitik tolak pada pemahaman struktur wilayah tingkat Nasional ( SPWTN ) telah mengungkapkan gambaran tentang penyebaran, orientasi dan tingkat perkembangan masing – masing satuan Wilayah Pengembangan ( SWP ) serta hubungan ketergantungan antar (SWP ) melalui simpul – simpulnya masing – masing.

v  KELEBIHAN TEORI SIMPUL JASA DISTRIBUSI
·         Menjadi acuan penting dalam pengembangan Wilayah terutama dalam menentukan berbagai kegiatan pengembangan secara Nasional
v  KELEMAHAN TEORI SIMPUL JASA DISTRIBUSI
·         Masih terdapat peluang untuk melengkapi dan memperkuat bbeberapa penjalasannya, yaitu pendekatan arus barang, dan pendekatan secara fisik.

Refrensi

·         Rahardjo Adisasmita.2008.Pengembanngan Wilayah Konsep Dan Teori.Yokyakarta:Graha Ilmu
·         Hadi Sabari Yunus.2000.Struktur Tata Ruang Kota.Yokyakarta:Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar